
BIMA," Pilarbima.Com,- kamis 14/05/26 ," Artikel Oleh: Dr. Taufiqurrahman, ST., M.Si. " Susunan batu, kayu, dan atap bukanlah sekedar hiasan bangunan, tapi merupakan arsitektur sebagai naskah hidup yang diwariskan oleh leluhur untuk masa depan. Setiap bangunan berdiri sebagai cerminan jiwa masyarakat Dou Labo Dana Mbojo, dimana selalu berpijak pada nilai, bersandar pada kepercayaan, dan melangkah ke depan tanpa melupakan akar.
Falsafah Dou Mbojo, yaitu Maja Labo Dahu (rasa malu berbuat salah, takut melanggar kebenaran), sebagai nilai yang menjadi tulang punggung Arsitektur Mbojo, mengajarkan bahwa keindahan sebuah bangunan tidak diukur dari seberapa megah wujudnya, melainkan dari seberapa mulia makna dan kemanfaatannya bagi sesama.
Arsitektur mbojo bernafaskan roh ketuhanan, di Amahami berdiri tempat ibadah yang menyatukan Islam dan budaya. Atap mesjid menyerupai puncak Uma Lengge melukiskan perjalanan iman menuju kesempurnaan, berdiri di atas air mengingatkan bahwa keyakinan adalah penopang yang tak tergoyahkan di tengah gelombang kehidupan. Agama bukanlah penghapus jati diri, melainkan penyempurna jalan hidup.
Warisan sejarah Asi Mbojo menyimpan rahasia persatuan. Bentuknya yang meramu gaya tradisional, corak Islam, dan sentuhan dunia luar melukiskan makna mendalam, yaitu Bima terbuka menjalin hubungan dengan dunia, namun tak pernah kehilangan jati dirinya. Lantai yang menjulang tinggi di atas permukaan tanah melukiskan harapan agar harkat, martabat, dan kehormatan rakyat senantiasa terjaga dan terangkat.
Rumah hunian kawasan permukiman Uma Haju (rumah panggung) berdiri megah dengan atap kerucut yang menjulang, mengajarkan bahwa semakin tinggi cita-cita, semakin kokoh pula kehidupan yang dibangun. Tanpa sepotong paku logam, hanya diikat pasak dan kesepakatan, ia melambangkan persatuan yang kuat bukan karena paksaan, melainkan karena kepercayaan dan kasih sayang yang saling mengunci. Wombo (ruang bawah) untuk berkumpul, ro madei (ruang tengah) untuk memelihara keluarga, pamoka (ruang atas) menyimpan cadangan rezeki, dan segala sesuatunya adalah gambaran kehidupan yang teratur, bertanggung jawab, serta memandang jauh ke depan.
Seiring kemajuan zaman, banyak bangunan modern bermunculan, tapi jiwa Arsitektur Mbojo tak pernah sirna. Bentuk atap yang diambil dari warisan leluhur, penggunaan bahan dari tanah kelahiran, tata ruang yang ramah lingkungan, semuanya berbisik satu pesan, yaitu maju boleh, namun hati tetaplah Mbojo. Pembangunan diatur agar merata, jalan terbuka lebar, ruang lapang terjaga, sebagai wujud kekuasaan yang melayani, bukan menguasai, serta janji akan keadilan bagi Dou Labo Dana Mbojo.
Pembangunan Kota Bima merupakan filosofi Arsitektur Mbojo yang indah sebagai bukti nyata bahwa Kota Bima ingin tumbuh melaju, namun tetap menjadi rumah yang damai, bermartabat, dan selamanya terasa sebagai tempat pulang yang paling nyaman.(PB.****)
COMMENTS